Bukan Sekadar Lulus, Disnakertrans NTB Pastikan Lulusan SMK Punya Sertifikat dan Skill

Senin, 26 Januari 2026 – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB mengambil langkah konkret dalam memperkuat link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan dunia kerja. Melalui program pelatihan upskilling bagi lulusan SMK, Disnakertrans NTB mendorong peningkatan kompetensi lulusan agar lebih siap memasuki pasar kerja sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Program tersebut dibahas bersama para pemangku kepentingan pendidikan dan pelatihan vokasi dalam pertemuan yang berlangsung di Aula Disnakertrans Provinsi NTB. Hadir dalam kegiatan ini perwakilan Dinas Pendidikan, jajaran Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, serta unsur internal Disnakertrans NTB, termasuk bidang pelatihan, penempatan, dan para instruktur kejuruan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, S.Pd., M.Pd., yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa upskilling lulusan SMK merupakan kebutuhan mendesak agar lulusan tidak berhenti pada ijazah semata, tetapi memiliki kompetensi dan sertifikasi yang diakui pasar kerja.
“Hari ini kita tidak bisa lagi bicara lulusan hanya soal lulus atau tidak lulus. Yang dibutuhkan industri adalah kompetensi. Karena itu, pelatihan upskilling ini kita desain agar lulusan SMK benar-benar siap kerja,” ujar Aidy Furqan.
Ia menambahkan, penguatan sinergi antara Disnakertrans dan SMK menjadi kunci utama dalam membangun sistem vokasi yang efektif. Menurutnya, dunia pendidikan dan dunia kerja tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
“Pendidikan dan ketenagakerjaan itu satu ekosistem. Kalau tidak terkoneksi, yang dirugikan adalah anak-anak kita. Karena itu, kolaborasi ini harus kita bangun secara serius,” tegasnya.
Penguatan vokasi ini dinilai memiliki makna khusus mengingat Aidy Furqan juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB. Pengalaman tersebut membuatnya memahami secara utuh tantangan SMK, mulai dari kurikulum, keterbatasan sarana, hingga transisi lulusan menuju dunia kerja.
“Saya paham betul bagaimana kondisi SMK, karena saya pernah berada di sana. Maka sekarang tugas kita di Disnakertrans adalah melanjutkan ikhtiar itu, memastikan lulusan SMK tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut ke dunia kerja dengan bekal yang cukup,” ungkapnya.
Pelatihan upskilling yang dirancang Disnakertrans NTB mencakup lima kejuruan, yakni Barista, Waiters, Pelayanan Pelanggan, Operator Komputer Administrasi, serta Las SMAW 4G. Seluruh kejuruan tersebut disesuaikan dengan peluang kerja aktual, baik di sektor jasa, industri, maupun kebutuhan tenaga kerja luar negeri.
Dalam arahannya, Aidy Furqan juga menjelaskan bahwa Balai Latihan Kerja (BLK) di NTB saat ini telah bertransformasi menjadi BLK Skills Center, bukan sekadar perubahan nomenklatur, tetapi juga perubahan cara kerja dan kualitas layanan.
“Transformasi menjadi Skills Center itu bukan sekadar perubahan nama. Kita benahi cara layanan, kualitas pelatihan, jam belajar, sampai sertifikasi. Target kita jelas, lulusan pelatihan ini harus punya sertifikat kompetensi yang diakui,” tegasnya.
Ia menambahkan, Disnakertrans NTB tengah mendorong peningkatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dari level 1 menuju level 2, sehingga lulusan pelatihan memiliki pengakuan kompetensi yang lebih kuat dan dapat diterima di pasar kerja yang lebih luas.
Lebih lanjut, Disnakertrans NTB juga menekankan pentingnya kolaborasi erat dengan SMK, baik dalam penyelarasan kurikulum, pemanfaatan instruktur dan fasilitas bersama, hingga pola pelatihan kolaboratif antara BLK dan sekolah.
“Kita ingin SMK dan Disnakertrans berjalan seiring. Ada sharing sumber daya, baik instruktur maupun peralatan, supaya anak-anak kita mendapatkan pelatihan terbaik meskipun fasilitas di sekolah berbeda-beda,” jelasnya.
Selain menyiapkan kompetensi teknis, Aidy Furqan menyoroti pentingnya integrasi nilai lokal dan wawasan kepariwisataan NTB dalam pelatihan, khususnya bagi calon tenaga kerja yang akan bekerja di luar daerah maupun luar negeri.
“Tenaga kerja NTB harus punya identitas. Mereka bukan hanya pekerja, tapi juga duta daerah. Minimal mereka paham budaya dan pariwisata NTB, sehingga ke mana pun bekerja, mereka membawa nama daerah,” pungkas Aidy.
Melalui program upskilling ini, Disnakertrans NTB berharap lulusan SMK di NTB tidak lagi terjebak pada keterbatasan akses kerja, tetapi memiliki jalur transisi yang jelas dari sekolah ke dunia kerja, didukung oleh pelatihan berkualitas, sertifikasi kompetensi, serta informasi peluang kerja yang terintegrasi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang konsolidasi awal untuk penyiapan peserta pelatihan yang direncanakan mulai berjalan pada tahun 2026, dengan koordinasi intensif antara Disnakertrans NTB, Dinas Pendidikan, MKKS SMK, serta para instruktur dan pemangku kepentingan terkait.





