Disnakertrans NTB Dorong Entrepreneur Adaptif di Desa Berdaya Kawasan Transmigrasi Lombok Timur

Membangun kawasan transmigrasi hari ini tidak cukup hanya dengan menghadirkan infrastruktur. Yang lebih penting adalah menyiapkan masyarakat agar mampu membaca peluang usaha, berinovasi, dan menciptakan lapangan kerja di tengah perubahan zaman.
Semangat itu menjadi pesan utama yang disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Aidy Furqan, S.Pd., M.Pd., saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Kewirausahaan Pengembangan Satuan Permukiman Tahap Pemantapan di Kawasan Transmigrasi Selaparang, Desa Mekarsari, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Bidang Transmigrasi Disnakertrans Provinsi NTB tersebut diikuti 30 peserta yang merupakan pelaku usaha dari Desa Mekarsari. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kewirausahaan, dinamika kelompok, komunikasi, hingga praktik pengolahan kopi dan jahe sebagai produk bernilai tambah.
Dalam arahannya, Aidy Furqan mengatakan bahwa tantangan dunia kerja saat ini telah berubah. Masyarakat tidak lagi cukup dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga harus memiliki kemampuan membangun usaha yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Sekarang kita tidak hanya dituntut menyiapkan sumber daya manusia yang siap bekerja, tetapi juga harus mampu menciptakan lapangan kerja. Karena itu, masyarakat harus memiliki jiwa kewirausahaan, berani berinovasi, dan mampu mengikuti perubahan zaman,” tegas Aidy.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja, menikmati hiburan, hingga memilih produk. Kondisi tersebut harus dibaca sebagai peluang, bukan ancaman.
Ia mencontohkan bagaimana produk-produk sederhana seperti kopi maupun makanan tradisional dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila dikemas secara kreatif dan mengikuti selera pasar.
“Perubahan itu tidak bisa kita hindari. Karena itu kita juga harus berubah lebih cepat. Produk yang sama bisa memiliki nilai jual berbeda ketika dikembangkan dengan kreativitas dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar,” ujarnya.
Aidy juga mendorong peserta agar tidak berhenti pada materi pelatihan, tetapi berani menciptakan produk khas yang memiliki identitas sendiri sehingga mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
“Saya minta pelatihan ini diseriusi. Siapa tahu setelah belajar mengolah kopi dan produk lainnya, lahir gagasan baru yang menjadi ciri khas desa ini. Jangan berhenti di diri sendiri, ajarkan juga kepada keluarga dan lingkungan sekitar supaya manfaatnya semakin luas,” katanya.
Lebih jauh, ia memastikan Disnakertrans Provinsi NTB akan terus mendampingi kelompok usaha yang menunjukkan keseriusan dalam mengembangkan usahanya, termasuk melalui dukungan peralatan sesuai kebutuhan program.
Kepala Bidang Transmigrasi Disnakertrans Provinsi NTB, Dr. Hj. Nina Triana, dalam laporannya menjelaskan bahwa bimtek ini merupakan bagian dari pengembangan Kawasan Transmigrasi Selaparang sekaligus mendukung Program Desa Berdaya Pemerintah Provinsi NTB.
Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengenali potensi usaha, menyusun strategi bisnis, serta mengembangkan produk lokal yang memiliki daya saing.
“Diharapkan melalui bimbingan teknis ini masyarakat kawasan transmigrasi semakin mandiri, mampu mengembangkan usaha yang berkelanjutan, serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di wilayahnya masing-masing,” pungkas Nina.




