Disnakertrans NTB Dorong Literasi Keuangan untuk CPMI: Menata Masa Depan dari Tanah Rantau

Masih banyak Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) yang berangkat ke luar negeri tanpa bekal pengetahuan keuangan yang memadai. Akibatnya, tak sedikit yang kembali tanpa hasil meskipun sudah bertahun-tahun bekerja. Untuk mencegah hal itu terulang, Disnakertrans NTB mendukung penuh kegiatan Literasi Keuangan yang digelar oleh BP3MI NTB berkolaborasi dengan Pegadaian di Hotel Puri Indah, Rabu (11/06/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BP3MI NTB Noerman Adhiguna, Kepala Departemen Gadai PT Pegadaian Area Ampenan Taupan Nugroho, Junior Manager Divisi Hubungan Kelembagaan PT Pegadaian Bagas Bayu, perwakilan Direktorat Literasi Keuangan dan Pemanfaatan Remitansi KP2MI Ibu, serta PMI dan CPMI.
Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si., yang membuka sekaligus menjadi narasumber pada kegiatan tersebut menekankan pentingnya pengelolaan keuangan bagi para calon PMI sebelum berangkat ke luar negeri.
“Kalau kita ingin CPMI kita sejahtera, jangan hanya bekali mereka dengan keterampilan kerja. Mereka juga harus paham bagaimana mengelola uangnya. Ini tentang martabat dan masa depan,” ujar Nelly dalam sambutannya.
Melalui pendekatan yang hangat dan komunikatif, Nelly menyampaikan materi dengan gaya yang membumi agar mudah dipahami para peserta. Ia mengajak para CPMI untuk melihat penghasilan dari luar negeri bukan semata-mata sebagai hasil kerja keras, melainkan sebagai modal penting untuk menata kehidupan jangka panjang. Dengan literasi keuangan yang baik, para pekerja migran diharapkan dapat membangun masa depan yang lebih aman dan mandiri, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan komunitas mereka di kampung halaman.
“Jangan sampai berangkat dengan semangat, tapi pulang tanpa hasil. Banyak dari kita yang sudah bertahun-tahun bekerja, tapi tidak memiliki tabungan. Hari ini, kita belajar cara mengelola penghasilan agar berkah dan bermanfaat,” ujarnya.
Baiq Nelly juga menyampaikan bahwa para PMI memiliki peran besar dalam menyumbang devisa negara. Tercatat pada April 2025, total remitansi yang masuk ke NTB dari PMI mencapai lebih dari Rp41 miliar.
“Ini bukan angka kecil, dan harus kita maksimalkan manfaatnya melalui pengelolaan yang tepat. Kami berharap melalui kegiatan ini, para calon PMI tidak hanya fokus pada bekerja di luar negeri, tapi juga mempersiapkan masa depan melalui pengelolaan remitansi yang cerdas dan berdaya guna,” tegasnya.
Terakhir Baiq Nelly mengingatkan agar masyarakat tidak tergiur dengan keberangkatan ilegal untuk menghindari risiko perdagangan orang dan eksploitasi.
“Jangan coba-coba berangkat ilegal. Kalau legal, semua mudah. Bahkan ke Malaysia sekarang sudah zero cost,” tutupnya.
Sementara itu Kepala BP3MI NTB, Noerman Adiguna, SE., MBA, menekankan pentingnya pengelolaan keuangan bagi calon PMI sebagai bekal dalam meraih masa depan yang lebih baik.
“Masih banyak pekerja migran yang pulang tanpa hasil karena kurangnya literasi keuangan. Edukasi seperti ini sangat penting agar mereka mampu mengelola pendapatan secara bijak,” ujarnya.
Materi literasi keuangan yang diberikan mencakup berbagai aspek seperti pengelolaan uang, perencanaan menabung, investasi, hingga pemahaman produk keuangan dan pengelolaan utang. Tujuannya agar para CPMI tidak hanya fokus bekerja, namun juga memiliki kesiapan dalam merencanakan masa depan secara finansial.
Kegiatan ini juga menghadirkan inspirasi dari sejumlah PMI Purna yang sukses dari berbagai daerah di NTB, salah satunya Bapak Asmuni, pemilik restoran Sukma Rasa yang menceritakan perjalanan suksesnya setelah kembali dari luar negeri. Mereka menjadi inspirasi nyata bahwa bekerja ke luar negeri bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi jika dikelola dengan benar.
Program literasi keuangan ini menegaskan bahwa pemerintah daerah hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai pengayom dan pendamping masyarakat. Bagi Disnakertrans NTB, ini bukan sekadar tugas dinas, tapi juga panggilan sosial untuk memastikan para CPMI tidak lagi hanya menjadi penyumbang devisa, tetapi juga tuan rumah atas kehidupannya sendiri.





