Menakar Angin Segar Sektor-sektor Primadona di Bursa Saham

Selama setahun lalu, kapasitas Indeks Harga Saham Kombinasi atau IHSG tidak banyak bergerak, hanya naik 1,7% ke level 6.299,54 point. Di lokasi Asia Tenggara, perkembangan IHSG cuma menempati rangking ke empat sesudah Vietnam, Singapura, serta Filipina.

Indeks VN Vietnam mencatat lonjakan 8,12% diikuti Indeks Strait Times yang naik 5,01% serta Indeks PSE Filipina 4,68%. Thailand ada di tempat ke lima dengan kenaikan 0,99%. Mengenai Indeks FTSE Bursa Malaysia malah turun 4,43%.

Direktur Penting Bursa Dampak Indonesia (BEI), Inarno Djajadi menjelaskan, 2019 adalah tahun penuh rintangan hingga doa niat puasa ramadhan  berefek pada gerakan IHSG. Rumor perang dagang di antara Amerika Serikat (AS) serta Tiongkok, ribut-ribut Pemilihan presiden 2019, sampai permasalahan defisit neraca transaksi berjalan memberi warna dinamika bursa.

Bagaimana dengan potensial pasar saham tahun ini? Aktor pasar condong lebih optimis pada potensial pasar modal. Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat buka perdagangan pertama saham tahun ini mencuplik hasil survey Bloomberg pada 57 investor global, pialang, serta manager investasi.

Dia bangga Indonesia jadi “The most preferred emerging market 2020” alias pasar modal yang paling disukai investor untuk kelompok negara berkembang, baik untuk pasar saham atau pasar surat utang (obligasi).

Di pasar saham, Indonesia menaklukkan Tiongkok, India, serta Brasil. Sesaat di pasar surat utang, Indonesia menyalip Rusia, Meksiko, serta Brasil. “Keyakinan yang demikian besar dari beberapa faksi harus kita menjaga,” kata Jokowi, dalam pidatonya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (2/1).
Rangking Indonesia dalam Survey Bloomberg

Rangking Indonesia dalam Survey Bloomberg (Bloomberg)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Layanan Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjelaskan, hasil survey itu mengisyaratkan tingginya keyakinan investor pada potensial ekonomi Indonesia. Keyakinan beberapa pemodal kelihatan semenjak tahun kemarin saat investor asing mencatat nilai pembelian bersih (net buy) saham Rp 49,2 triliun.

Sesaat pada 2018, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham sejumlah Rp 50,7 triliun. Dengan positifnya keyakinan investor pada pasar keuangan Indonesia, saluran modal asing yang masuk selalu bertambah.

Angin fresh optimisme hasil dari survey Bloomberg di dukung beberapa tanda ekonomi. Perkembangan ekonomi direncanakan lebih konstan, iklim usaha serta investasi lebih baik bersamaan gagasan pemerintah ajukan Omnibus Law Cipta Lapangan kerja serta Omnibus Law Perpajakan ke DPR.

Team analisa Sinarmas Sekuritas dalam laporan “Equity Market Outlook 2020: Stable Bull Year” meramalkan perkembangan ekonomi tahun ini ada di level 5 – 5,1 persen. Perkembangan mengonsumsi rumah tangga direncanakan sedikit lebih rendah di angka 5 persen.

Ada faktor-faktor yang mengakibatkan hal itu, diantaranya kenaikan harga rokok serta pungutan BPJS Kesehatan. Pergantian konsentrasi pemerintah dari pertolongan sosial ke stimulan untuk peningkatan sdm akan berefek pada berbelanja mengonsumsi warga.

“Untuk investasi, kami percaya perkembangannya semakin lebih baik sebab ada kejelasan politik yang semakin besar pascapemilu,” catat team analisa Sinarmas Sekuritas.

Ketertarikan investasi tidak terusik oleh penurunan harga komoditas. Kesempatan masuknya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dipacu oleh ekspansi kebijaksanaan moneter serta fiskal, dan usaha pemerintah melakukan perbaikan iklim investasi dengan Omnibus Law.

Berbelanja pemerintah direncanakan lebih baik pada semester II 2020. Mengenai kapasitas export serta import tahun ini direncanakan relatif sama dengan tahun kemarin mengingat masih ada banyak larangan import untuk jaga supaya defisit neraca transaksi berjalan tidak melompat.

Sinarmas meramalkan IHSG di akhir tahun ini sampai 6.750 point. Sasaran itu menggambarkan kekuatan kenaikan 8,6% dari prediksi perkembangan laba per saham serta price earning ratio (PER) IHSG 2020 sebesar 16,2 kali.

Kepala Analisa Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya, dalam risetnya memproyeksikan perkembangan laba per saham (earning per sharing/EPS) emiten di BEI pada 2020 akan sampai 9 persen, angka ini tambah tinggi dibanding realisasi tahun kemarin sebesar 3 – 5 persen.

Tidak hanya perkembangan ekonomi yang konstan, beberapa faktor yang dapat jadi katalis buat gerakan saham tahun ini ialah stabilnya nilai ganti rupiah, pemulihan harga minyak kelapa sawit (CPO) yang akan menggerakkan daya beli warga, serta pulihnya ketertarikan investasi.

Tahun 2019 adalah tahun politik. Banyak investor tunda proyek-proyek besarnya. Kejelasan politik baru kuat sesudah Partai Gerindra masuk dengan konsolidasi simpatisan Jokowi.

“Omnibus law bagian ketenagakerjaan yang akan menyederhanakan peraturan tumpang-tindih serta mempermudah perizinan usaha dapat menarik investasi serta tingkatkan penyerapan tenaga kerja,” kata Hariyanto. Di lain sisi, omnibus law bagian perpajakan akan tingkatkan penghasilan perusahaan sebab biaya pajak pendapatan (PPh) tubuh akan di turunkan dari 25 jadi 20 persen pada 2023.

Mirae membidik IHSG di akhir 2020 sampai level 7.140 point. Angka itu tunjukkan kenaikan sebesar 14,2 persen dibanding sasaran IHSG Mirae tahun kemarin di angka 6.250 point.

Add Comment
0 Answer(s)

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.