Gita Ariadi Sampaikan apresiasi Luar Biasa atas keperdulian Pengurus & Warga ASLI

Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di bidang teknologi informasi (TI) menuju NTB Maju Melaju, Pj. Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, Msi diwakili oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, S.Sos., MH membuka kegiatan Seminar Nasional Optimalisasi Peran Media Sosial, Al, dan Perangkat Digital dalam Meningkatkan Manajemen Kinerja di Hotel Prime Park – Mataram, Senin (24/06/2024).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Aliansi Sasak Lombok Indonesia ( ASLI) dan Ikatan Alumni SMA 1 Jonggat Lombok Tengah bersama PT. Asli Mandiri Indotech (Aruna Group) menggandeng brand Canon dan AUKEY ini dihadiri oleh 245 peserta yang berasal dari para kepala sekolah SD hingga SMA/MA/SMK, para guru, dosen, manager perusahaan, IT Suppport di berbagai kantor dan perusahaan, praktisi IT se-Provinsi NTB.
Dalam pembukaannya, Gede menyampaikan salam hangat, apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya dari Pj. Gubernur NTB, Drs.H.Lalu Gita Ariadi, M.Si kepada pengurus dan segenap anggota Aliansi Warga Sasak yang kini tersebar diseluruh indonesia dan menyebar dibeberapa Belahan dunia.
Pengurus ASLI, kata Miq Gita kini ada di jepang, Timur Tengah, Korea selatan, Taiwan, hongkong dan sejumlah negara lainnya, sebagai PMI, Mahasiswa, dan berbagai profesi lainnya. Sedangkan di tanah air, pengurus ASLI eksis di 34 Provinsi se-indonesia, bahkan tidak sedikit diantaranya adalah warga transmigran atau keturunan warga transmigrans yang sukses meniti karier diberbagai bidang usaha dan profesi.
Miq Gita menyampaikan apresiasi luar biasa atas keperdulian pengurus ASLI yang tetap komit pada Daerah dan pembangunan Nasional serta mengharumkan adat budaya sasak di kancah nasional maupun global.
Termasuk atas terselenggaranya seminar Nasional ini, menurut Gita bukan hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga ajang keperdulian, komitmen Sasak dalam berbagi pengalaman, berbagi informasi, wawasan dan ajang memperkuat jaringan kemitraan sekaligus berbagi rezeki. Terlebih dalam seminar ini panitya sudah menyiapkan ratusan jenis door price kepada peserta.
Ia menekankan bahwa semua pengalaman dapat menjadi pembelajaran yang berharga. Terutama bagi para orang yang bekerja, sebab informasi akan mempengaruhi kualitas kinerja. Terlebih bagi yang bekerja ke luar daerah/luar negeri.
“Informasi juga rezeki. Karena itu berbagi informasi merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang belum bisa mengikuti perkembangan teknologi,” ujarnya.
Menurut Gede, tidak ada bangsa dan daerah yang maju kalau tidak ada kepedulian dari masyarakatnya. Pembangunan juga tidak akan mencapai kesuksesan jika instansi pemerintah masih mengembangkan sikap ego sektoral dan tidak saling mendukung. Apalagi saat ini teknologi dan informasi tiap tahunnya berkembang begitu cepat dan pesat.
“Tidak ada satu sektor pun yang luput dari penggunaan teknologi dan informasi. Mencari pekerjaan, bekerja, belajar, mengikuti pelatihan, hingga belanja pun saat ini bisa dilakukan secara online,” ujar Gede.
Data penggunaan media sosial tahun 2024 di Indonesia menunjukkan jumlah total pengguna sebanyak 191 juta orang (73,7% dari populasi), pengguna aktif sebanyak 167 juta orang (64,3% dari populasi), dan penetrasi internet mencapai 242 juta orang (93,4% dari populasi).
Platform media sosial terpopuler di Indonesia adalah YouTube, Instagram, Facebook, WhatsApp, dan TikTok. Pengguna media sosial didominasi oleh usia 18-34 tahun (54,1%), dengan proporsi perempuan 51,3% dan laki-laki 48,7%.
“Ini menunjukkan bahwa satu individu memanfaatkan beberapa media sosial sekaligus. Karena itu teknologi harus digunakan secara bijak,” ucapnya.
Pemanfaatan teknologi dan informasi sebisa mungkin harus dimanfaatkan untuk hal yang berkualitas dan suatu yang produktif. Karena jika internet hanya digunakan untuk hal konsumtif, berbagai efek negatif dapat muncul. Produktivitas menurun, ketergantungan teknologi meningkat, pengeluaran tidak terkendali menyebabkan masalah keuangan, kurang berkembang secara pribadi dan profesional, serta mengalami masalah kesehatan mental seperti stres dan kecemasan. Isolasi sosial bisa terjadi akibat kurangnya interaksi langsung, dan informasi yang tidak akurat mudah tersebar. Selain itu, kreativitas bisa menurun karena lebih banyak waktu dihabiskan untuk konsumsi daripada produksi.
Karena itu menurutnya pengawasan terhadap penggunaan teknologi harus dilakukan tidak hanya pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Banyak kasus kejahatan yang terjadi di dunia nyata berawal dari dunia maya. Misalnya, pishing, cyberbullying, penipuan online, data breaches (kebocoran data), eksploitasi anak, online grooming, dan masih banyak lagi. Bahkan kasus kejahatan yang sedang marak terjadi akhir-akhir ini banyak berawal dari judol atau judi online / kecanduan game online.
“Ini yang harus kita waspadai. Banyak ragam kejahatan yang membuat kerugian jika kita tidak bijak dalam menggunakan teknologi. Karena itu teknologi harus digunakan secara terkendali dan berkualitas,” pesan Gede.
Mantan Kadiskominfotik Provinsi NTB tersebut mengungkapkan dalam bidang ketenagakerjaan, kasus yang banyak terjadi yaitu penipuan dan pemalsuan job order pada Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI).
“Masyarakat yang kurang menguasai informasi mudah tertipu dan tergiur dengan janji manis para calo dan mafia. Para CPMI yang berniat baik ingin bekerja mencari nafkah untuk keluarganya ini dimanfaatkan oleh oknum bahkan dijual kepada mafia di luar negeri,” ujar Gede.
Oleh karena itu Gede kembali menekankan pentingnya menguasai informasi. Ia berpesan agar para pendidik mendidik peserta didiknya untuk memanfaatkan IT dengan baik dan bijak. Dan juga agar para pemangku kepentingan baik di swasta maupun pemerintahan jangan sampai ketinggalan informasi dan teknologi (gaptek).
“Jika gaptek, sulit mengambil sikap yang sifatnya komprehensif.,” tegasnya.
Terakhir Gede menginformasikan jika Disnakertrans Provinsi NTB dan Dinas Pendidikan & Kebudayaan NTB menjalin kerjasama dalam membina Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK. Kerjasama tersebut memberikan pendampingan bagaimana anak-anak SMK agar bisa langsung masuk ke dunia kerja. Selain harus bisa menguasai teknologi, mereka juga dibekali dengan etos kerja dan disiplin yang baik.
“Pemanfaatan teknologi bukan hanya punya aspek positif tapi juga harus mengantisipasi dan melakukan langkah-langkah preventif dalam pencegahan penggunaan teknologi secara negatif yang bisa menimbulkan resiko dan merusak generasi di masa yang akan datang,” pungkasnya.




